Bos OJK Heran Banyak ASN Ajukan Restrukturisasi Kredit Saat Pandemik

Bos OJK Heran Banyak ASN Ajukan Restrukturisasi Kredit Saat Pandemik

Bos OJK Heran Banyak ASN Ajukan Restrukturisasi Kredit Saat Pandemik

Bos OJK: Restrukturisasi Kredit Cuma 18% dari Kredit Nasional

Di lansir dari ffmc-74.org, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan banyak aparatur sipil negara alias ASN yang meminta restrukturisasi kredit di tengah pandemik COVID-19 saat ini.

Hal itu di sampaikannya dalam “Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional – Temu Stakeholders” di Bali, Jumat (9/4/2021). Bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Dan Ketua Komisi XI DPR RI Dito Ganinduto.

Adapun perilaku ASN yang meminta restrukturisasi kredit sebagai perilaku kurang berempati. Hal ini lantaran masih menerima gaji tiap bulannya dan masih sanggup membayar kredit.

Di kutip dari IDN Poker APK, “ASN ramai-ramai mengirim surat untuk minta restrukturisasi (kredit). Itu kan juga tidak pada tempatnya karena gajinya tidak (berkurang). Nah itu sudah kita tekel kasus-kasus begitu, di beberapa daerah sudah mengerti ya, Pemda-nya sudah mengerti,” jelas Wimboh.

1. Peruntukkan stimulus restrukturisasi kredit sebenarnya

Wimboh sebelumnya menjelaskan tentang target dari stimulus restrukturisasi kredit yang di keluarkan OJK sejak tahun lalu.

Di lembaga pembiayaan, kredit tersebut berkaitan dengan motor dan mobil sehingga restrukturisasi kredit di berikan bagi mereka yang menjadikan kendaraannya sebagai sarana utama dalam mencari nafkah.

“Kalau (kredit) dia untuk konsumsi artinya dia pegawai, gajinya tetap mestinya ya mempunyai empati untuk mengangsur. Kecuali dia motornya di pakai untuk ojek, nggak dapat penumpang, nah ini yang kita bilang harus di restrukturisasi, jangan di tagih dulu karena mereka juga tidak mendapatkan pendapatan dan untuk makan saja susah,” jelas Wimboh.

2. Restrukturisasi sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemik COVID-19

OJK menuangkan kebijakan restrukturisasi kredit tersebut di dalam POJK Nomor 11/POJK.03.2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercylical Dampak Penyebaran COVID-19.

Aturan tersebut membuat perbankan dan lembaga pembiayaan bisa melakukan restrukturisasi bagi para debiturnya yang terdampak pandemik COVID-19. Adanya kebijakan restrukturisasi yang di lakukan oleh OJK sejak tahun lalu membuat jumlah kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) mulai mengecil saat ini.

“Dengan restrukturisasi tersebut, maka kredit di perbankan yang tergolong non-performing pada akhir Januari ada di level 3,17 persen,” ungkap Wimboh.

Comments are closed.