Bentrok Terjadi di Malam Kedua Protes Kematian Daunte Wright

Bentrok Terjadi di Malam Kedua Protes Kematian Daunte Wright

Bentrok Terjadi di Malam Kedua Protes Kematian Daunte Wright

Di lansir dari ffmc-74.org, tewasnya Daunte Wright, seorang pemuda berusia 20 tahun karena di tembak oleh petugas polisi Broklyn Center, Minneapolis, telah memicu protes. Hari Minggu malam, protes berlangsung oleh ratusan orang dan bentrokan antara pengunjuk rasa dengan polisi terjadi.

Minneapolis telah tegang karena sedang berlangsung persidangan mantan polisi Derek Chauvin yang di tuduh membunuh George Floyd tahun lalu. Kini ketika persidangan telah memasuki tahap ketiga, polisi lain di Minneapolis justru “membunuh” warga Afro-Amerika lainnya yang bernama Daunte Wright.

Di kutip dari IDN Poker APK, protes berlanjut pada hari Senin (12/4) dan bentrokan terjadi lagi. Protes dari pengunjuk rasa itu terjadi karena pada siang hari, polisi menjelaskan bahwa penembakan terhadap Daunte Wright sepertinya adalah sebuah kecelakaan dan bukan sebuah kesengajaan.

1. Protes lanjutan kematian Daunte Wright kembali berujung bentrok

Protes yang berujung bentrok pada Minggu malam (11/4) telah menyebabkan puluhan toko di rusak dan di jarah. Beberapa pengunjuk rasa juga di laporkan terluka kerena peluru karet yang di tembakkan oleh petugas keamanan.

Melansir dari kantor berita Reuters, ratusan pengunjuk rasa kembali ke jalan dan melakukan protes pada hari Senin (12/4). Para pengunjuk rasa tersebut abai terhadap hujan deras dan peraturan jam malam yang telah di tetapkan oleh gubernur Minnesota, Tim Walz.

Tim Walz memerintahkan penerapan jam malam setelah rusuh pada hari Minggu. Penerapan jam malam itu terus berlanjut sampai waktu dapat terkondisikan. Akan tetapi pengunjuk rasa mengabaikannya dan tetap melakukan protes pada hari Senin.

Massa peserta unjuk rasa menyerang pagar pengaman, melempari polisi dengan botol air mineral, batu dan proyektil lainnya sedangkan polisi membalas dengan melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa yang marah.

Bentrokan kemudian terjadi dan sedikitnya 40 peserta unjuk rasa di tangkap karena di tuduh melakukan pelanggaran jam malam. Tiga orang petugas polisi di laporkan menderita luka ringan karena bentrokan tersebut.

2. Keluarga korban tolak klaim bahwa penembakan adalah kecelakaan

Ketika penembakan polisi kepada Daunte Wright terjadi pada hari Minggu, desakan muncul agar departemen kepolisian merilis video rekaman yang berasal dari tubuh polisi yang bertugas. Dari rekaman tersebut, seorang petugas polisi yang telah bekerja selama 26 tahun bernama Kim Potter, di identifikasi sebagai pelaku penembakan.

Menurut rekaman video yang di putar, Kepala polisi bernama Tim Gannon, menggambarkan penembakan itu sebagai “tembakan yang tidak di sengaja.” Potter ingin mengambil tembakan Taser tapi justru mengambil pistol lantas melepaskan tembakan.

Taser adalah tembakan listrik untuk melumpuhkan yang biasa di gunakan oleh polisi.

Melansir dari laman The Guardian, ayah Daunte Wright yang bernama Aubrey Wright menolak penjelasan polisi yang mengatakan bahwa petugas berniat mengambil Taser tapi “keliru” mengambil pistol.

Aubrey Wright mengatakan “Saya tidak bisa menerima itu-sebuah kecelakaan, itu kedengaran tidak benar. Petugas ini telah bertugas selama 26 tahun. Saya tidak bisa menerima (alasan) itu.”

Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris mengatakan bahwa “doa saja tidak cukup” untuk keluarga Wright. Harris mengatakan ketika penyelidikan atas penembakan itu sedang di lakukan, “bangsa kita membutuhkan keadilan dan penyembuhan, dan keluarga Daunte perlu tahu mengapa anak mereka meninggal-mereka pantas mendapatkan jawaban.”

Comments are closed.